Halaman ini dikelola oleh Transport for Bandung, bukan situs resmi pemerintah. Informasi bersumber dari dokumen publik dan dikurasi secara independen. Tentang kami →
MASTRAN · BRT Metro Jabar Trans

Semua yang perlu kamu ketahui tentang proyek BRT di Cekungan Bandung

Proyek MASTRAN akan menghadirkan BRT berskala besar pertama di Metropolitan Cekungan Bandung. Informasi tentang koridor, rute, perhentian, dan manfaatnya bagi warga dikumpulkan dalam situs web ini.

Peta Koridor & Rute BRT
DEPO DEPO Antapani Leuwipanjang
On-Corridor (21.7 km)
Off-Corridor
21.7 km
Panjang On-Corridor
38
Halte On-Corridor
242
Perhentian Off-Corridor
18 + 27
Rute Utama + Feeder
579
Armada Bus

MASTRAN: proyek transportasi massal Cekungan Bandung

Indonesia Mass Transit Project (MASTRAN) adalah proyek besar yang akan menghadirkan BRT skala metropolitan di Cekungan Bandung, mencakup 5 kota/kabupaten: Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang.

Di Bandung, sistem ini akan beroperasi di bawah nama Metro Jabar Trans (MJT), kelanjutan dan pembaharuan layanan bus perkotaan yang telah berjalan saat ini.

Proyek ini menggunakan konsep direct service: bus dapat masuk dan keluar dari koridor utama menuju wilayah off-corridor, sehingga warga di luar koridor tetap terlayani tanpa harus pindah bus.

Sumber Pendanaan
Bank Dunia
USD 224 juta
AFD (Prancis)
USD 40 juta

Total pinjaman
USD 264 juta
Linimasa Proyek MASTRAN
2022
Persetujuan Pendanaan World Bank & AFD
Total USD 264 juta disetujui. Proyek resmi dimulai.
2023–2026
Studi, Desain, DED & Penetapan Rute
Konsultan menetapkan jalur koridor, jenis lajur, lokasi halte, dan dokumen teknis terperinci.
2026 — Sekarang
Konstruksi Halte, Koridor & Infrastruktur
Pembangunan 38 halte on-corridor, 242 perhentian off-corridor, depo, dan peningkatan trotoar sedang berjalan.
2026–2027
Target Selesai Konstruksi
Seluruh infrastruktur halte dan perhentian ditargetkan rampung.
2027
Target Operasi Penuh
18 rute beroperasi penuh dengan 579 armada bus.

Kondisi saat ini tidak bisa dibiarkan

Tanpa BRT: Skenario “Do Nothing”

Kemacetan yang terus memburuk

Tanpa intervensi, Kawasan Metropolitan Cekungan Bandung akan menghadapi kemacetan yang semakin parah akibat meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi. Sejumlah ruas jalan pada jam sibuk sudah mencapai Level of Service F berdasarkan klasifikasi Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997. Hal ini berarti volume kendaraan melebihi kapasitas jalan dan kemacetan panjang terjadi secara rutin.

Tanpa sistem angkutan massal yang andal, peluang mengintegrasikan mobilitas perkotaan dengan moda lain seperti kereta komuter dan bus antarkota akan terlewatkan. Jaringan transportasi Kawasan Metropolitan Cekungan Bandung tetap terfragmentasi dan tidak efisien.

Emisi gas rumah kaca dan polusi udara akan terus meningkat. Warga berpenghasilan rendah akan terus menanggung biaya transportasi yang semakin tinggi, memperdalam ketimpangan akses terhadap lapangan kerja dan layanan publik.

Dengan BRT: Skenario “Do Something”

Mobilitas terintegrasi untuk semua

Desain akhir BRT ditekankan pada rute dan koridor dengan permintaan mobilitas tinggi, konektivitas antarmoda, dan perluasan jangkauan.

Dengan BRT, lebih banyak lapangan kerja dapat dijangkau dalam waktu lebih masuk akal, emisi berkurang, dan warga (termasuk perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas) mendapatkan akses transportasi yang lebih andal dan setara.

🚦 Kondisi Lalu Lintas
LOS F
Level of Service jam sibuk di sejumlah ruas utama, berarti lalu lintas terhambat, volume melebihi kapasitas
+193%
Proyeksi pertumbuhan perjalanan harian di BBMA antara 1995 dan 2030
💼 Keterjangkauan Lapangan Kerja menggunakan Transportasi Umum

Sebagai sampel, dari ~3,77 juta lapangan kerja di Cekungan Bandung, berapa yang bisa dijangkau dari Stasiun Bandung?

27%
dalam 60 menit
40%
dalam 90 menit
46%
dalam 120 menit

Lebih dari separuh lapangan kerja di Cekungan Bandung tidak dapat dijangkau dalam 2 jam perjalanan dengan transportasi umum.

🌿 Emisi Gas Rumah Kaca Harian di Koridor BRT
5.010 tCO₂e
Total emisi per hari di sepanjang jalur on-corridor
Mobil pribadi41%
Sepeda motor pribadi31%
Truk18%
Angkot & bus10%
💨 Kualitas Udara (Baseline 2024)

Nitrogen dioksida (NO₂) terdeteksi melebihi batas aman WHO di seluruh titik pemantauan di sepanjang koridor BRT, meskipun masih memenuhi standar nasional Indonesia. Particulate matter (PM₁₀) juga tercatat melebihi standar WHO di Terminal Ledeng.

Bagaimana sistem BRT ini nantinya bekerja?

Model Layanan

Sistem ini menggunakan model hybrid: skema direct service dan trunk-and-feeder digunakan bersamaan.

Menggunakan skema direct service, bus dari rute utama dapat masuk dan keluar on-corridor sehingga penumpang tidak perlu berpindah kendaraan walau perjalanan melewati luar koridor. Sepanjang perjalanannya, bus juga akan didukung oleh layanan pengumpan (feeder) dengan skema trunk-and-feeder, memungkinkan masyarakat dari kawasan sekitar membawa penumpang ke halte bus lalu penumpang berpindah ke bus BRT.

On-Corridor

Jalur Utama Berinfrastruktur Khusus

Koridor utama BRT membentang sepanjang 21,7 km, melewati jalan-jalan utama di Kota Bandung — dari kawasan timur hingga barat. Di sepanjang koridor ini, bus beroperasi di lajur khusus yang dipisahkan dari lalu lintas umum, baik berupa lajur terpisah penuh maupun lajur campuran, bergantung pada kondisi jalan di tiap segmen.

Proyek on-corridor bukan sekadar membangun halte dan lajur bus. Dalam radius 300 meter dari setiap halte, trotoar di sekitarnya juga akan ditingkatkan. Sistem lalu lintas terintegrasi (ITS) juga dipasang untuk mendukung prioritas bus di persimpangan.

21,7 km
Panjang Koridor
38
Halte
300 m
Radius Perbaikan Trotoar

Yang dibangun di on-corridor

Lajur bus khusus (terpisah/campuran)
38 halte berdesain khusus BRT
Peningkatan trotoar radius 300 m
Sistem lalu lintas terintegrasi (ITS)
Fasilitas pejalan kaki & aksesibilitas
Placeholder Gambar
🗺
Peta Koridor On-Corridor — 21,7 km
Unggah gambar peta koridor di sini — menampilkan 38 halte dari timur ke barat, lajur BRT, dan segmen jalan yang dilalui (Jl. Ahmad Yani, Jl. Asia Afrika, Jl. Sudirman, Jl. Rajawali, dll.)
6 Tipe Platform Halte On-Corridor — berdasarkan DED MASTRAN (Dohwa–Lenggogeni, 2024)
Tipe A
1 jalur khusus BRT + 2 lajur kendaraan, 1 arah
Sisi Jalan
TROTOAR TROTOAR HALTE BUS BRT ↑ JALUR BUS↑ lajur 1↑ lajur 2
Jalan satu arah 3 lajur. BRT di tepi kiri, dipisahkan separator fisik dari 2 lajur kendaraan. Halte di trotoar kiri.
22 halte: Alun-Alun, Cicadas, Ciroyom, Kebon Jati, RS Rajawali, Stasiun Hall, BTM, dan lainnya
Tipe B
1 lajur kendaraan + platform island + 1 jalur BRT + 2 lajur kendaraan, 1 arah
Median
TROTOAR TROTOAR HALTE BUS BRT ↑ lajur 1↑ JALUR BUS↑ lajur 2↑ lajur 3
Jalan satu arah 4 lajur. Lajur 1 reguler, platform island antara lajur 1 dan BRT (lajur 2), barrier fisik di kedua sisi BRT, 2 lajur reguler di kanan.
2 halte: Pasar Baru
Tipe C
2 lajur kendaraan + platform island + 1 jalur BRT + 1 lajur kendaraan, 1 arah
Median
TROTOAR TROTOAR HALTE BUS BRT ↑ lajur 1↑ lajur 2↑ JALUR BUS↑ lajur 4
Jalan satu arah 4 lajur. Dua lajur reguler di kiri, platform island antara lajur 2 dan BRT (lajur 3), barrier fisik di kedua sisi BRT, 1 lajur reguler di kanan.
3 halte: Bundaran Cibeureum, Batas Kota
Tipe D
1 lajur BRT + 1 lajur kendaraan tiap arah, jalan dua arah
Sisi Jalan
TROTOAR TROTOAR HALTE HALTE BUS BRT BUS BRT ↑ LAJUR BUS↑ lajur↓ lajur↓ LAJUR BUS
Jalan dua arah dengan garis putih solid sebagai pemisah arah. BRT di tepi kiri tiap arah, dengan marka jalan (tanpa separator fisik). Halte di kedua trotoar luar.
6 halte: Taman Tegallega, Pasar Kosambi, Stadion Sidolig, Ahmad Yani, Santa Maria
Tipe E
1 jalur BRT + 1 lajur ↑ + 1 lajur berlawanan, 2 arah
Sisi Jalan
TROTOAR TROTOAR HALTE BUS BRT ↑ JALUR BUS↑ lajur 1↓ lajur 2
Jalan dua arah 3 lajur total. BRT di tepi kiri bersama 1 lajur searah, 1 lajur arah berlawanan di kanan, dipisahkan garis putih solid.
1 halte: Naripan
Tipe F
1 jalur BRT + 2 lajur ↑ + 2 lajur berlawanan, 2 arah
Sisi Jalan
TROTOAR TROTOAR HALTE BUS BRT ↑ JALUR BUS↑ lajur 1↑ lajur 2↓ lajur 3↓ lajur 4
Jalan dua arah 5 lajur total. BRT di tepi kiri bersama 2 lajur searah, 2 lajur arah berlawanan di kanan.
3 halte: Ciateul, Jamika, Suryani

Keterangan: Jalur BRT   Platform penumpang   Lajur kendaraan umum   Sumber: DED MASTRAN (Dohwa–Lenggogeni, 2024)

Mengapa Koridor Dibangun di Sini?

Koridor mengikuti rute dengan permintaan tertinggi yang sudah ada

Permintaan mobilitas menjadi kriteria utama. Koridor melewati ruas-ruas yang sudah dilayani oleh konsentrasi rute transportasi umum tertinggi — ESIA mencatat 78 rute transportasi umum bersinggungan dengan koridor BRT, dan 40 rute angkot tumpang tindih langsung dengan segmen on-corridor. Hal ini mengindikasikan bahwa rencana koridor BRT berada tepat di mana pergerakan warga sudah terjadi.

Koridor juga dirancang untuk menghubungkan simpul perjalanan utama — termasuk Stasiun Hall, Alun-alun, kawasan Cicadas, serta kawasan universitas dan komersial yang diidentifikasi sebagai salah satu titik bangkitan dan tarikan perjalanan terbesar di Kawasan Metropolitan Cekungan Bandung.

Pertanyaan yang Sering Muncul

“Jalan di Bandung sudah sempit, bukankah BRT membuatnya semakin sempit?”

Hal ini merupakan kekhawatiran yang wajar. Namun, perlu diketahui bahwa kondisi jalan saat ini bukanlah kondisi sebenarnya. Parkir liar, angkot ngetem, PKL, dan geometri jalan yang buruk sudah lama membuat ruang jalan menjadi lebih sempit. Kehadiran BRT tidak menyempitkan jalan, tetapi justru mengembalikan fungsinya.

Baca penjelasan lengkap →
Off-Corridor

Jaringan Rute di Luar Koridor

Di luar koridor utama, bus beroperasi di lalu lintas biasa dan tidak diakomodasi oleh jalur khusus. Bagian ini disebut off-corridor. Pada bagian inilah sebagian besar rute bus menjangkau kawasan perumahan, pusat aktivitas, dan wilayah di 5 kota/kabupaten yang tidak dilalui koridor BRT.

Sebanyak 242 perhentian akan dibangun di jaringan off-corridor. Tiga jenis infrastruktur digunakan, dari yang paling sederhana hingga yang paling lengkap.

Placeholder Gambar
🗺
Peta Jaringan Off-Corridor — 9 Rute Layanan
Unggah gambar peta jaringan off-corridor di sini — menampilkan 9 rute feeder (Cibiru, Ledeng, Leuwipanjang, Dago, Padalarang, Cimahi, dll.) dan 242 lokasi perhentian di 5 kota/kabupaten
242
Total Perhentian di Luar Koridor BRT
5
Kota dan Kabupaten Terjangkau

Jenis Perhentian di Off-Corridor

Placeholder 🔋 Foto Perhentian Pole
Pole
Perhentian sederhana tanpa atap, dipasang di pinggir jalan.
Placeholder 🏠 Foto Shelter Kecil
Shelter Kecil
Bangunan halte kecil dengan atap untuk perlindungan dari cuaca.
Placeholder 🏛 Foto Shelter Besar
Shelter Besar
Fasilitas lebih memadai, di titik-titik dengan permintaan tinggi.

18 rute BRT yang direncanakan untuk Bandung Raya

🚌 6 dari 18 rute ini sudah beroperasi sebagian sebagai Metro Jabar Trans (MJT), kelanjutan dari layanan Trans Metro Pasundan dan Buratas yang digabung dan di-rebranding per 1 Januari 2025. Rute-rute tersebut akan dikembangkan, diperpanjang, atau disesuaikan jalurnya saat MASTRAN beroperasi penuh.
No. Rute Status Saat Ini
BRT 1 Cibiru — Kalapa Belum beroperasi
BRT 2 Lembang — Kalapa Belum beroperasi
BRT 3 Leuwipanjang — Dago via Dipatiukur MJT 4 (sebagian)
BRT 4 Elang — Riau Belum beroperasi
BRT 5 Ciroyom — Antapani — Pajajaran Belum beroperasi
BRT 6 Cibaduyut — Leuwipanjang — Dago MJT 4 (sebagian)
BRT 7 Padalarang — Alun-alun Bandung MJT 2
BRT 8 Cimahi — Cicaheum Belum beroperasi
BRT 9 Ledeng — Antapani Belum beroperasi
BRT 10 Cicaheum — Kalapa via Binong Belum beroperasi
BRT 11 Tegalluar — Stasiun Hall Belum beroperasi
BRT 12 Soreang — Terminal Tegallega MJT 1 (dikembangkan)
BRT 13 Jatinangor — Cibeureum Belum beroperasi
BRT 14 Majalaya — Baleendah — Leuwipanjang MJT 6
BRT 15 Banjaran — Baleendah — BEC MJT 3 (diperpanjang)
BRT 16 Sarijadi — Antapani Belum beroperasi
BRT 17 Cicaheum — Sarijadi Belum beroperasi
BRT 18 Jatinangor — Dipatiukur MJT 5

+ 27 rute feeder sedang direncanakan. Daftar lengkap belum dipublikasikan secara resmi.

Spesifikasi bus dan jadwal operasional

🚌
On-Corridor
Bus Besar — 12 Meter
Panjang12 meter
Lebar maks.2,50 meter
Jumlah kursi29 kursi
Kapasitas berdiriMaks. 55 penumpang
Aksesibilitas1 ruang kursi roda
Lebar pintu1.200 mm (pintu tengah)
🚖
Off-Corridor
Bus Sedang — 9 Meter
Panjang9 meter
Lebar maks.2,45 meter
Jumlah kursi20 kursi
Kapasitas berdiriMaks. 25 penumpang
Aksesibilitas1 ruang kursi roda
Lebar pintu1.200 mm (pintu tengah)
06.00 22.00
Jam operasi harian (16 jam)
3–5 menit
Frekuensi bus saat jam sibuk
5–10 menit
Frekuensi bus di luar jam sibuk
579
Total armada bus yang direncanakan

Depo dan Terminal

Placeholder Gambar 🏭 Foto Depo Leuwipanjang
Depo Bus
Leuwipanjang
Kota Bandung · Barat Daya
Placeholder Gambar 🏭 Foto Depo Cicaheum
Depo Bus
Cicaheum
Kota Bandung · Timur
Placeholder Gambar 💏 Foto Terminal Antapani
Terminal
Antapani
Kota Bandung · Timur
Placeholder Gambar 💏 Foto Terminal Ledeng
Terminal
Ledeng
Kota Bandung · Utara

Tata kelola proyek: dari pusat hingga kota

Proyek MASTRAN melibatkan banyak lapisan pemerintahan — dari nasional hingga kota dan kabupaten. Berikut siapa yang pegang tanggung jawab apa.

🏛
Nasional — Pemrakarsa Proyek
Kementerian Perhubungan RI (Ditjen Perhubungan Darat / PMU)
Kementerian Perhubungan adalah pemilik proyek. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat mengelola pelaksanaan teknis melalui Program Management Unit (PMU).
💰
Nasional — Pengelola Pinjaman
Kementerian Keuangan RI
Pinjaman dari Bank Dunia dan AFD mengalir melalui Kementerian Keuangan sebagai on-lending ke Kemenhub.
🏢
Provinsi — Koordinator & Operator Transisi
Pemerintah Provinsi Jawa Barat · Dishub Jabar · PT Jasa Sarana
Dishub Jabar mengoordinasikan lintas kota/kabupaten. PT Jasa Sarana (BUMD Provinsi Jawa Barat) ditunjuk sebagai operator transisi sementara berdasarkan Pergub Jabar No. 53/2023, mulai 1 Januari 2025 hingga BUMD permanen terbentuk.
🏙
Kota / Kabupaten — 5 Daerah
Kota Bandung · Kota Cimahi · Kabupaten Bandung · Kabupaten Bandung Barat · Kabupaten Sumedang
Masing-masing bertanggung jawab atas BRT di wilayahnya. Setiap daerah juga akan memiliki saham dan kewajiban untuk terlibat di BUMD baru.
🏗
BUMD Permanen — Sedang Direncanakan
BUMD Kerjasama Antardaerah (belum terbentuk)
Akan menjadi operator tetap dengan Pemprov Jabar dan 5 kota/kabupaten sebagai pemegang saham.

Konsultan Proyek

PrMC — Program Management Consultant
ARUP + Perentjana Djaja
Merancang dan mengelola program, menilai kapasitas nasional, melakukan pengembangan institusional, serta mengembangkan database transportasi perkotaan.
PMC — Project Management Consultant
Egis + Avenew Indonesia + Yooshin Engineering
Perencanaan operasi, pengadaan, penyusunan spesifikasi ITS, pengawasan aspek lingkungan dan sosial, serta pengembangan organisasi BRT.
DED & Supervision Consultant
Dohwa Engineering + Lenggogeni
Membuat detailed engineering design (selesai) dan menjadi pengawas konstruksi.

Kontraktor Konstruksi

🚄
On-Corridor
Brantas Abipraya (Persero)
Membangun jalur koridor & halte on-corridor.
💏
Off-Corridor
Sumber Bangun Sentosa
Membangun 242 perhentian & halte di jaringan off-corridor.
🏭
Depo Leuwipanjang
Abadi Prima Intikarya
Membangun depo bus di Leuwipanjang.
⚙ Kontrak lainnya (depo Cicaheum, dll) belum dapat dipastikan.

Dampak proyek terhadap warga dan komunitas

Yang paling sering ditanyakan warga

Apa perbedaan koridor dan rute? +
Siapa yang membiayai proyek ini? +
Apakah angkot akan dihapus setelah BRT beroperasi? +
Apa itu konsep “direct service” dan “trunk-and-feeder”? +

Informasi yang Anda cari tidak ada di sini?

Diskusikan topik yang ingin Anda ketahui mengenai BRT bersama lebih dari 1300 orang lainnya di grup Telegram Forum Diskusi Transportasi Bandung.

Ikuti Diskusi →

Yang baru di lapangan & kebijakan

🚧
Konstruksi
Pembangunan Halte On-Corridor di Antapani Dimulai
8 Maret 2026
📋
Kebijakan
Dishub Jabar Konfirmasi Nama Metro Jabar Trans Dipertahankan
5 Maret 2026
🗣
Komunitas
Forum Warga: Apa yang Berubah di Sekitar Halte Barumu?
1 Maret 2026