Halaman ini dikelola oleh Transport for Bandung, bukan situs resmi pemerintah. Tentang kami →
Menjelaskan Kesalahpahaman

"BRT tidak cocok di Bandung, jalan Bandung kan sempit"

Pertanyaan ini sangatlah wajar. BRT nanti akan mengambil lajur jalan yang ada, tanpa memperlebar atau membangun jalan baru. Tentunya hal ini akan mengurangi lebar jalan, bukan?

Namun, ada hal yang perlu kita amati terlebih dahulu: apakah jalan di Bandung memang sesempit yang terasa, atau ada hal-hal yang membuat jalan di Bandung terasa lebih sempit dari sebenarnya?

Poin inti dari halaman ini: Ruas jalan yang dibangun koridor BRT tidak sedang dipersempit untuk bus. Sebaliknya, ruang yang selama ini dipergunakan secara informal oleh parkir liar, angkot yang berhenti sembarangan, pedagang, dan geometri jalan yang buruk akan ditertibkan dan dikembalikan ke fungsinya. Bus BRT mengisi ruang yang dikembalikan itu, bukan mencuri ruang dari lajur kendaraan pribadi yang sudah ada.

Jalan tidak menyempit, melainkan dibiarkan untuk hal-hal yang tidak semestinya

Kalau Anda berdiri di Jl. Otto Iskandar Dinata atau Jl. Rajawali Timur pada jam sibuk dan merasa jalannya sempit, belum tentu kesalahan ada pada desain jalannya. Lebar fisik jalan tidak berubah, tetapi ruang yang tersedia untuk lalu lintas sudah lama berkurang untuk berbagai aktivitas yang tidak semestinya, seperti parkir liar, pasar tumpah melebihi jadwalnya, dan angkot ngetem.

Hal yang tidak normal ini dibiarkan begitu lama sehingga dianggap sebagai hal yang normal. Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan orang berkata "jalan Bandung sempit."

🚗
Parkir di badan jalan, baik resmi maupun liar
Satu lajur parkir di tepi jalan setara dengan satu lajur lalu lintas yang hilang. Di ruas jalan yang padat, parkir di bahu jalan bisa memangkas kapasitas jalan hingga 25–33%.
🚐
Angkot yang berhenti dan ngetem sembarangan
Tanpa halte yang jelas dan kurangnya kedisiplinan, angkot berhenti di mana saja sesuai permintaan penumpang. Terkadang, angkot sering berhenti mendadak di tengah lajur jalan sehingga memaksa kendaraan lain untuk mengantre atau memotong lajur.
🛒
Pedagang kaki lima di bahu jalan dan trotoar
PKL yang berjualan di bahu jalan atau trotoar memaksa pejalan kaki untuk turun ke badan jalan, menambah sempit ruang gerak kendaraan dari arah berlawanan.
⚠️
Geometri jalan yang tidak teratur
Median yang tidak konsisten, persimpangan tanpa marka yang jelas, dan penyempitan jalan mendadak akibat tata kota yang buruk menambah kepadatan di ruas-ruas tertentu.
PKL di trotoar PARKIR badan jalan ANGKOT ngetem ↑ ruang tersisa PARKIR badan jalan PKL di trotoar TROTOAR TROTOAR

Apa yang berubah dan apa yang tidak

Di ruas yang memiliki lajur khusus BRT, kekhawatiran utama ialah: "jalan makin sempit, satu lajur hilang." Berikut gambaran yang lebih lengkap tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ilustrasi di bawah ini menggunakan data dari Jl. Otto Iskandar Dinata, yang memiliki 4 lajur (3 untuk lalu lintas + 1 untuk parkir on-street sebelum penataan).

Kondisi Sekarang Lajur 1 (parkir) + 3 lajur lalu lintas terganggu
TROTOAR TROTOAR PARKIR on-street ANGKOT ngetem kendaraan kendaraan ←——— Lebar jalan tetap sama ———→
Lajur 1: parkir on-street (tidak efektif untuk lalu lintas).
Lajur 2: sering terhalang angkot ngetem.
Lajur 3 & 4: padat dan ikut terhambat efek domino dari lajur 1 & 2.
Setelah BRT Beroperasi Jalan lebih tertib, semua punya ruang (4 lajur efektif)
TROTOAR BERSIH TROTOAR BERSIH BUS BRT melalui jalur khusus ↑ LAJUR BUS kend. pribadi kend. pribadi kend. pribadi ←——— Lebar jalan tetap sama ———→
Lajur 1 menjadi jalur khusus bus — BRT bergerak bebas dari kemacetan.
Parkir & angkot ngetem ditertibkan. Lajur 2, 3, & 4 lebih lancar dari sebelumnya.
Trotoar diperbaiki dan dikembalikan untuk pejalan kaki.
Simpulan: Di ruas dengan koridor BRT, satu lajur memang dialokasikan untuk bus. Namun, karena ditertibkannya parkir liar dan praktik ngetem, kapasitas lajur kendaraan pribadi yang tersisa bisa setara atau bahkan lebih lancar dari kondisi sebelumnya.

Bagaimana ruang jalan dikembalikan?

Proyek MASTRAN bukan hanya membangun infrastruktur bus. Di sepanjang koridor, sejumlah penertiban dan pembenahan yang sudah lama dibutuhkan juga menjadi bagian dari paket proyek.

1
PKL direlokasi dengan pendampingan
1.735 PKL yang teridentifikasi di sepanjang koridor akan direlokasi ke lokasi yang ditetapkan, dengan program pemulihan penghidupan (livelihood restoration) sesuai LARAP. Trotoar dikembalikan untuk pejalan kaki.
2
Halte resmi menggantikan titik ngetem
Dengan dibangunnya 38 halte on-corridor dan 242 perhentian off-corridor, angkot dan bus akan memiliki titik naik-turun yang formal. Berhenti sembarangan menjadi tidak perlu dan dapat ditertibkan.
3
Parkir di badan jalan ditertibkan
Di ruas koridor, parkir on-street yang selama ini memblokir lajur harus dialihkan — baik ke parkir off-street yang tersedia maupun ke manajemen parkir yang lebih teratur. Ini adalah kondisi yang harus dipenuhi agar lajur bus bisa berfungsi.
4
Trotoar diperbaiki dalam radius 300 m setiap halte
Dalam radius 300 meter dari setiap halte on-corridor, trotoar di sekitarnya juga ditingkatkan sebagai bagian dari lingkup proyek. Ini mengembalikan fungsi trotoar dan mengurangi pejalan kaki yang "tumpah" ke badan jalan.

Koridor BRT dirancang untuk jalan yang ada, dengan tiga konfigurasi berbeda

Tim DED (Dohwa Engineering + Lenggogeni) merancang tiga konfigurasi berbeda, disesuaikan dengan lebar dan kondisi jalan di tiap ruas. Total panjang koridor 21,7 km dibagi menjadi:

Tipe 1 — Segregasi Penuh
9,45 km
Lajur terpisah dengan barrier fisik

Koridor BRT jenis ini berupa lajur bus yang dipisahkan dari lalu lintas kendaraan pribadi menggunakan pembatas fisik (separator). Dengan demikian, bus dapat beroperasi bebas dari hambatan kendaraan lain. Konfigurasi ini diterapkan pada ruas dengan lebar jalan yang cukup lebar.

TROTOAR TROTOAR BUS BRT ↑ LAJUR BUS kendaraan pribadi kendaraan pribadi
Tipe 2 — Segregasi Marka
4,20 km
Lajur terpisah dengan marka jalan saja

Koridor BRT jenis ini memisahkan lajur bus dengan lalu lintas lainnya hanya dengan marka jalan (cat) tanpa pembatas fisik. Jenis koridor BRT ini diterapkan pada ruas jalan yang cukup lebar, tetapi tidak cukup untuk dapat dipasang pembatas fisik, di mana terdapat banyak pertokoan dan persimpangan yang harus tetap dapat diakses.

Efektivitas koridor BRT jenis ini bergantung pada kedisiplinan pengendara serta penegakan aturan lalu lintas agar kendaraan pribadi tidak masuk ke lajur bus.

TROTOAR TROTOAR BUS BRT LAJUR BUS (marka) kendaraan pribadi kendaraan pribadi
Tipe 3 — Lajur Campuran
7,35 km
Bus berjalan bersama lalu lintas

Pada koridor BRT jenis ini, tidak ada lajur khusus. Bus BRT berjalan bersama kendaraan pribadi di lajur yang sama. Konfigurasi ini diterapkan di ruas-ruas yang lebarnya tidak mencukupi untuk dipasang lajur khusus.

Meskipun menyatu dengan lalu lintas kendaraan lain, bus yang berjalan di koridor BRT jenis ini tetap mendapat keistimewaan, seperti mendapat prioritas di persimpangan.

TROTOAR TROTOAR BUS BRT lajur 1 lajur 2 lajur 3

Apa yang terjadi pada kapasitas jalan ketika BRT beroperasi?

Hakikat dari transportasi di perkotaan bukan sekadar "berapa banyak kendaraan yang dapat berpindah dalam waktu tertentu," melainkan "berapa banyak orang yang dapat berpindah dalam waktu tertentu." Studi Analisis Dampak Lalu Lintas (ANDALALIN) proyek BRT MASTRAN menjawab pertanyaan ini dengan data dari 46 titik survei di 14 ruas jalan sepanjang koridor BRT.

Sumber: ANDALALIN BBMA BRT, 2024 (EGIS-Avenue-Yooshin, 2025)
Rasio V/C rata-rata turun dari 0,85 ke 0,65 — dari Kelas E ke Kelas C
Kapasitas jalan diukur menggunakan rasio volume kendaraan terhadap kapasitas jalan (V/C Ratio) berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997). Semakin rendah rasio V/C, semakin lancar kondisi lalu lintas di ruas tersebut.
Kelas Layanan Jalan (Level of Service) berdasarkan V/C Ratio — MKJI 1997
LOSV/C RatioKondisi Lalu Lintas
A0,00 – 0,19Arus lalu lintas lancar dan pengendara bisa leluasa mencapai kecepatan yang diinginkan
B0,20 – 0,44Arus lalu lintas stabil, kecepatan kendaraan sedikit dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas, tetapi pengendara tetap bisa mencapai kecepatan yang diinginkan
C0,45 – 0,74Arus lalu lintas stabil, kecepatan kendaraan bisa dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas
D0,74 – 0,84Arus lalu lintas tidak stabil, kecepatan rendah dan berubah-ubah
E0,85 – 1,00Arus lalu lintas tidak stabil, kecepatan rendah dan berubah-ubah, beban jalan mendekati kapasitas penuh
F> 1,00Arus lalu lintas terhambat, beban jalan melebihi kapasitasnya, timbul kemacetan panjang
Kondisi Sekarang (tanpa BRT)
0,85 rata-rata V/C
E LOS E — Arus lalu lintas tidak stabil
Survei 46 titik pada 14 ruas jalan sepanjang rencana koridor BRT. Beberapa ruas mencapai V/C di atas 1,0 (LOS F), termasuk Jl. Sudirman, Jl. Jakarta, dan Jl. Ahmad Yani.
turun
~8%
Setelah BRT Beroperasi
0,65 rata-rata V/C
C LOS C — Arus lalu lintas stabil
Proyeksi dari studi ANDALALIN. Mayoritas ruas mengalami penurunan V/C ratio dari LOS E ke LOS C. Pengecualian: V/C ratio Jl. Sudirman Segmen 4 tetap di angka 0,97 dan memerlukan penanganan tambahan.
Perbandingan V/C Ratio per ruas — jam puncak pagi
Ruas JalanV/C SekarangLOSV/C dengan BRTLOS
Jl. Asia Afrika (segmen 4)0,75D0,58C
Jl. Jend. Sudirman (segmen 1)0,97E0,74C
Jl. Rajawali Barat0,80E0,62C
Jl. Kebon Jati (1)0,97E0,75C
Jl. Otto Iskandar Dinata (1)0,96E0,74C
Jl. Jakarta1,03F0,79D
Jl. Jend. Sudirman (4) — perlu perhatian1,00F0,97E
Sumber: ANDALALIN BBMA BRT, 2024. Volume dihitung dalam satuan mobil penumpang (PCU/hour). Jl. Sudirman Segmen 4 masih membutuhkan penanganan lanjutan setelah operasional BRT.
Perbandingan Kapasitas Kendaraan
Mengapa kapasitas jalan menjadi lebih tinggi ketika ada BRT?
Kendaraan Pribadi (rata-rata)
1–2 penumpang per kendaraan (rata-rata 1,3 di kota)
VS
Bus BRT (12 meter)
84 penumpang per bus
Setiap bus BRT mampu menggantikan sekitar 60–65 mobil dari jalan. Dikombinasikan dengan penertiban parkir dan aktivitas angkot ngetem, kepadatan dapat berkurang secara signifikan.

Jalur khusus memungkinkan bus datang tepat waktu, andal, dan konsisten

Perbaikan kapasitas jalan yang ditunjukkan dalam ANDALALIN hanya dapat terwujud apabila bus BRT beroperasi sesuai jadwal. Jalur khusus berperan krusial dalam memastikan bus tidak terjebak kemacetan dan bisa mempertahankan frekuensi yang konsisten. Frekuensi bus yang konsisten memungkinkan lebih banyak orang untuk bersedia beralih dari kendaraan pribadi ke BRT. Semakin banyak yang beralih dari kendaraan pribadi, semakin ringan beban jalan.

Perbedaan ini terlihat jelas jika kita bandingkan pola operasi angkot konvensional dengan BRT yang memiliki jalurnya sendiri.

Perbandingan Pola Operasi
Jadwal yang konsisten = kapasitas angkutan yang dapat diprediksi
Angkot/bus konvensional (bercampur kemacetan) Bus BRT (jalur khusus + prioritas di persimpangan) A A A berkerumun A jeda panjang A A A Headway tidak menentu (5–15 menit) → penumpang tidak bisa diandalkan untuk merencanakan perjalanan BRT BRT BRT BRT BRT 7 mnt 7 mnt Headway konsisten 7 menit → 9 bus/jam → kapasitas angkut terprediksi & penumpang terus bertambah
✓ Tujuan dibangun jalur khusus
Bus tidak terjebak kemacetan → kedatangan tepat waktu
Prioritas di persimpangan → waktu perjalanan lebih singkat
↗ Manfaat untuk semua
Jadwal lebih andal → lebih banyak orang beralih dari kendaraan pribadi
Lebih banyak orang beralih → lebih sedikit kendaraan di jalan

Argumen yang sering muncul

Anggapan

"BRT akan memempersempit jalan, kemacetan pasti makin parah."

Kenyataannya

Data Andalalin menunjukkan rata-rata V/C ratio di koridor BRT justru turun dari 0,85 (LOS E) menjadi 0,65 (LOS C) setelah BRT beroperasi. Lajur-lajur jalan yang ada selama ini terhalang sebagian oleh parkir liar dan aktivitas ngetem angkot. Setelah ditertibkan, seluruh lajur di ruas jalan yang menjadi koridor BRT menjadi lebih fungsional. Satu lajur yang digunakan untuk jalur khusus bus membawa jauh lebih banyak orang daripada satu lajur mobil di jam sibuk.

Anggapan

"Jalan di Bandung sempit, BRT tidak cocok dirancang untuk Bandung."

Kenyataannya

DED MASTRAN menetapkan tiga konfigurasi berbeda untuk menangani variasi lebar dan kondisi jalan di sepanjang koridor BRT. Ruas jalan yang sempit tidak menggunakan pembatas/separator. BRT dirancang untuk masuk ke kondisi jalan yang ada dan bukan dipaksakan.

Anggapan

"PKL dan angkot dikorbankan untuk kepentingan BRT."

Kenyataannya

PKL tidak dihilangkan, melainkan diusulkan untuk direlokasi ke lokasi lain. Angkot tidak dihapus, melainkan diintegrasikan ke dalam sistem transportasi sebagai rute pengumpan. Penertiban ini juga melepaskan PKL dan pengemudi angkot dari kondisi informal yang sudah lama tidak teratur.

Anggapan

"Ini hanya proyek untuk pengguna bus. Saya tidak naik bus, jadi tidak ada manfaatnya."

Kenyataannya

Setiap pengguna kendaraan pribadi yang beralih ke BRT berkontribusi terhadap berkurangnya kendaraan di jalan. Hal ini juga menjadi manfaat bagi masyarakat yang tetap menggunakan kendaraan pribadi. Manfaatnya yang dirasakan oleh adanya BRT bersifat sistemik, bukan hanya untuk penumpang bus.

Hal-hal yang harus diantisipasi dan dipantau

⚠ Catatan
BRT bukan solusi yang sempurna

Pertama: selama masa konstruksi, gangguan lalu lintas tetap akan terjadi. Pembangunan halte, pelebaran trotoar, dan pemasangan separator akan menyempitkan jalan untuk sementara di beberapa ruas. Namun, hal ini bukanlah alasan untuk menolak proyek BRT. Seluruh pemangku kepentingan harus sigap menginformasikan tujuan jangka panjang BRT.

Kedua: manfaat ini hanya akan terwujud jika penegakan aturan konsisten dilakukan setelah BRT beroperasi. Apabila nanti parkir liar kembali muncul, angkot kembali ngetem di luar halte, dan PKL kembali ke bahu jalan, maka kondisinya akan sama saja seperti sekarang. Keberlanjutan dalam penegakan aturan adalah sesuatu yang perlu terus dipantau oleh masyarakat.

Apa yang bisa kamu pantau

Setelah BRT beroperasi, pertanyaan yang relevan untuk dipantau bukan lagi "apakah jalannya sempit?" tetapi:

Apakah parkir on-street di koridor benar-benar ditertibkan dan tidak kembali?
Apakah angkot dan feeder benar-benar hanya berhenti di halte yang ditetapkan?
Apakah lajur bus bebas dari kendaraan pribadi yang masuk sembarangan?
Apakah rasio V/C di ruas-ruas koridor benar-benar turun sesuai proyeksi Andalalin?

Ingin tahu lebih lanjut tentang lingkup proyek, rute, dan infrastruktur BRT MASTRAN secara keseluruhan?

← Kembali ke halaman utama KawalBRT